Dinamika Politik Ende Dalam Kacamata Politisi (Perempuan) Milenial

Politisi PSI Herlyn Reku
Politisi PSI, Herlyn Reku (Foto: istimewa)

Ende, NUSALONTAR.com — Konstelasi politik di Kabupaten Ende sedang memanas. Adu strategi dan pamer amunisi sedang terjadi di antara sesama partai koalisi yang sebelumnya sama – sama mendukung Marsel – Djafar Jilid II.

Kali ini enam partai politik melawan Golkar yang sedang sendirian tanpa kawan dalam mengusulkan kandidat. Entahlah di gedung DPRD nanti. Mungkin saja akan ada partai yang mau bersekutu dengan Partai Golkar untuk menyatukan kekuatan guna memenangkan kompetisi. Kita tunggu saja hasilnya.

Bacaan Lainnya

Dalam konteks itu ada banyak orang yang coba mereka – reka, berusaha menakar dan menganalisis, bahkan mengajukan prediksi sosok mana yang pantas dan ditengarai bakal memenangkan pertarungan.

Herlyn Reku, salah satu kader milenial Partai Solidaritas Indonesia (PSI), juga mengamati, bahkan terlibat dalam dinamika politik yang sedang berkembang.

Ketika dihubungi untuk meminta pendapatnya mengenai konstelasi politik di Ende terkait kursi wakil bupati, kepada NUSALONTAR Bendahara DPD PSI Ende ini mengatakan bahwa dirinya lebih tertarik berkomentar dalam perspektif gender.

Politisi yang pernah bertarung memperebutkan kursi Dapil Ende II ini mengungkapkan bahwa, dalam konteks Ende, dominasi kultur patriarki masih sangat melekat kuat. Bahkan hanya sekedar dalam konteks diskursus sekalipun, fenomena itu sangat mudah terbaca. “Lihat saja, jangankan ikut dalam bursa kandidat wakil bupati, bahkan dalam pemberitaan saja, tidak banyak, bahkan hampir – hampir tidak ada politisi perempuan yang muncul, minimal memberi komentar di media,” tuturnya.

Herlyn berharap, ke depan akan lebih banyak lagi politisi perempuan yang mendapat ruang aktualisasi, juga dukungan berbagai pihak agar bisa lebih leluasa dan percaya diri dalam berpolitik.

Jika mau jujur, kata Herlyn, kami perempuan ini bukannya tidak mau berpolitik, atau tidak suka terjun dalam dunia politik praktis, tapi kultur politik kita yang belum kondusif menyediakan ruang itu, sehingga ketika ingin berpolitik, kita masih dihantui rasa minder dan kurang percaya diri.

Herlyn memberi contoh dirinya sendiri yang berpolitik hanya karena didorong – dorong oleh beberapa sahabatnya, termasuk orang tuanya. “Dulu saya tidak tertarik dengan politik, karena saya anggap itu wilayahnya lelaki. Mau bagaimana lagi, saya memang tidak pernah masuk dalam wilayah (politik-red) itu. Namun setelah masuk dunia politik, saya merasa bahwa ruang (politik-red) ini ternyata sangat baik untuk aktualisasi diri, juga sangat baik untuk¬† berlomba – lomba memberi kontribusi bagi kebaikan bersama,” kisahnya.

Herlyn mengungkapkan bahwa dirinya merasa sangat bersyukur karena PSI memberi kepercayaan kepadanya untuk mengemban tugas sebagai bendahara DPD. Selain itu, Herlyn juga mengakui bahwa di PSI ada banyak posisi – posisi strategis yang dipegang oleh politisi perempuan, terutama di DPP.

Berkaca dari geliat politik yang sedang terjadi saat ini, Herlyn berharap agar kaum perempuan mesti melihat ini sebagai tantangan. “Apa yang terjadi saat ini harus menjadi lecutan bagi kita kaum perempuan untuk ikut mengambil peran. Kenapa calon bupati, calon wakil bupati hanya dari kaum pria saja. Kaum perempuan harus menunjukan bahwa kita juga punya kapasitas, punya kemampuan yang setara. Kita juga bisa jadi bupati atau wakil bupati. Yah, tentunya butuh waktu untuk itu. Tapi kita harus memulainya,” beber aktivis Orang Muda Katolik itu.

Oleh karena itu Herlyn mengajak kaum milenial, terutama kaum perempuan, untuk mendaftarkan diri menjadi kader PSI. “Bukannya bermaksud eksklusif, tapi secara pribadi saya ingin ada lebih banyak lagi kader – kader politisi perempuan tangguh di Ende. Dan untuk menjadi politisi tangguh, kita butuh belajar. Di PSI, kami menyediakan ruang belajar yang kondusif untuk itu,” ujarnya.

Ketika secara spesifik dimintai pendapat soal usulan nama dari partai koalisi untuk Ende 02, Herlyn hanya meminta agar para pihak yang berkepentingan tidak saling menyandera. “Kasihan masyarakat. Malu juga kita kasih pendidikan politik yang buruk generasi selanjutnya. Golkar sebaiknya segera sodorkan satu nama supaya proses ini cepat selesai,” tutupnya.

(JR)

Pos terkait