Berprestasi Di Usia Tua, Mungkinkah?

 

Oleh: Darko King*)

Bacaan Lainnya

ESEI – Tulisan ini sesungguhnya hanya sebuah reproduksi pengetahuan, hasil membaca. Saya terinspirasi oleh sebuah artikel sederhana karya Johny The dalam bukunya “Kisah Inspirasional, Menumbuhkan Benih Keunggulan” (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006). “Tua Masih Berprestasi “, begitu judul artikel itu.

Untuk mendukung hipotesanya, penulis menguraikan kisah hidup yang fenomenal dari beberapa tokoh dunia. Pertama, George W. Bush, Sr. Dikisahakannya, Mendiang Presiden Paman Sam itu masih mampu mengendalikan parasutnya dalam atraksi terjun payung pada hari ulang tahunnya yang ke-80. Sesuatu yang cukup sulit untuk dibayangkan.

Adapun atraksi yang ditampilkan Bush pada saat itu adalah yang ketiga kalinya. Atraksinya yang pertama dilakukan saat ia masih aktif menjadi pilot Angkatan Laut “US Army”. Saat itu, pesawatnya sempat tertembak namun dengan bermodalkan parasut, ia berhasil selamat. Sedangkan atraksi keduanya adalah pada saat ia dan para kerabat serta sahabatnya merayakan ulang tahunnya yang ke-75. Fantastik!

Tokoh dunia yang punya karya fenomenal lainnya yang diceritakan penulis buku itu adalah Kolonel Sanders. Penulis mengisahkan, Sang Kolonel yang sukses membesarkan Kentucky Fried Chicken (KFC) itu ternyata baru mulai merintis usaha itu pada usia 67 tahun.

Demikian pula Pablo Casals, pemain selo (sejenis alat musik, pen) terbesar di dunia itu baru mulai berlatih pada usia 95 tahun. Ketika itu, Pablo menghabiskan 6 jam sehari demi menggapai mimpi besarnya. Dan ketika diwawancarai wartawan, Pablo dengan yakin berujar, “saya rasa, saya masih bisa membuat kemajuan”. Itulah tokoh ketiga yang dikisahkan Johny The.

Berprestasi di usia tua, bagi saya merupakan sebuah tema yang menarik. Dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan sering menjadi bahan perbincangan. Juga bisa jadi materi debat.

Di satu sisi, usia tua dipandang sebagai bagian akhir dari hidup. Pandangan ini sudah tentu melihat usia tua sebagai sesuatu yang penuh dengan kelemahan. Oleh karena itu, orang-orang lanjut usia (lansia) dikelompokkan sebagai kelompok masyarakat non produktif. Pensiunan. Harus segera berhenti bekerja dan berproduksi. Yang lebih ekstrim, para lansia dianggap sebagai beban dalam banyak hal.

Di sisi lain, tak kurang pula orang-orang yang mampu melihat masa tua sebagai harapan. Bagi kelompok orang ini, masa tua bukanlah waktu yang tepat untuk berhenti bekerja dan berproduksi. Malah, semangat kerja dan produktivitasnya didongkrak menjadi semakin tinggi.

Apa yang bisa dipetik? Saya cukup yakin, semua manusia punya kecenderungan untuk menolak ketuaan. Namun, hukum alam tidak mengijinkan manusia hidup abadi. Manusia harus menjalani masa-masa hidup yang telah digariskan Sang Ilahi. Lahir, hidup pada semua masa dan akhirnya mati.

Meski demikian, jalan panjang yang dilalui setiap manusia semasa hidupnya, sejak lahir sampai mati, sudah semestinya diisi dengan semua hal baik dan berguna termasuk yang namanya produktivitas. Karya-karya besar yang membanggakan harus senantiasa dihasilkan kapanpun ketika manusia itu hidup. Maka tak mengherankan jika seorang bayi, balita dan atau anak-anak sudah bisa punya karya besar. Begitu sebaliknya, manusia harus bisa mengisi masa tuanya dengan prestasi. Berprestasi di masa tua adalah sebuah keniscayaan.**

*)Penulis adalah Pegiat Literasi, Sekretaris FTBM Kabupaten Lembata.

Pos terkait