Orang Tua Asuh, Salah Satu Strategi Menekan Angka Stunting

Lurah Oesapa, Kiai Kia

KUPANG – Lurah Oesapa, Kiai Kia, mengatakan bahwa pihaknya akan terus berusaha menekan angka stunting serendah mungkin.

Ditemui di Kantor Lurah Oesapa, Jl. Adi Sucipto, Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, pada Rabu (16/11/2022), Kiai mengatakan bahwa dirinya terus melakukan koordinasi dengan pihak Puskesmas untuk melakukan penanganan terhadap penderita stunting ini.

Bacaan Lainnya

“Kita terus melakukan koordinasi dan kolaborasi, terutama dengan nakes (tenaga kesehatan), khususnya dengan tim gizi dari Puskesmas,” terangnya.

Kiai menyebut, di Oesapa, pada periode Agustus 2022, bayi yang ditimbang ada 1.501 orang. Dari jumlah itu ditemukan yang stunting ada 373 orang.

“Prosentasenya sekitar 24 persen,” imbuhnya.

Terkait penanganan stunting ini, Kiai mengatakan bahwa dirinya telah menerima mendapatkan surat dari Dinas Kesehatan Kota Kupang yang isinya meminta pihak Kelurahan Oesapa untuk mencari orang tua asuh bagi anak penderita stunting.

Tentang orang tua asuh, Kiai mengungkapkan bahwa dirinya pernah menyarankan ke pihak dinas untuk menyamakan persepsi soal pertanggungjawabannya.

“Mencari bapak asuh itu bisa, tetapi saya menyarankan waktu itu, kita harus samakan persepsi dulu. Misalkan nanti bapak asuh kasih duit, lalu siapa yang kelola?,” tanya Kiai.

“Pertanggungjawabannya seperti apa? Juga, seandainya dia (bapak asuh, red) drop barang, nanti pertanggungjawabannya bagaimana? Kita harus sepakat laporan kepada para bapak asuh ini seperti apa? Ini yang kita harus sepakat, supaya kita satu irama-lah,” jelasnya.

Kiai mengatakan bahwa untuk sementara saya ia meminta stafnya mendata semua penderita stunting lengkap dengan alamatnya supaya lebih mudah mengatur siapa orang tua asuhnya nanti.

“Saya minta data para penderita stunting itu by name by address, supaya orang tua asuh yang kita cari itu adalah mereka yang berada di sekitar tempat tinggal penderita stunting. Agar yang diasuh itu tidak hanya materi tetapi batin juga. Maksudnya kalau dia kasih barang atau materi, sesekali dia juga kunjungi anak yang diasuhnya supaya bisa tahu perkembangannya,” paparnya.

Kiai juga mengemukakan bahwa dari data yang diterima, sebagian besar penyebab stunting adalah faktor ekonomi dan pengetahuan atau pemahaman soal gizi yang sangat kurang.

“Saya pernah gandeng salah satu pengusaha, dia datang bawa telur, bawa makanan, lalu saya bawa ke Puskesmas, karena pihak Puskesmas yang tahu mana yang paling parah yang harus dibantu, tapi itu sekali saja. Padahal kita butuh kesinambungan supaya para penderita ini bisa tertolong,” ucapnya.

Ia berharap orang tua dari anak-anak penderita stunting selalu membawa anak-anak ke Posyandu agar status gizi anak bisa dipantau. Selain itu agar bisa mendapatkan makanan tambahan dan obat-obatan yang dibutuhkan.

Ia juga berharap agar semua pihak bekerjasama untuk menekan angka stunting, sehingga anak-anak Indonesia, khususnya di NTT ini bisa tumbuh dengan sehat dan cerdas. (JR)

Pos terkait