MANGGARAI BARAT, nusalontar.com | Sebanyak 786 calon pelanggan di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat bersiap menikmati akses listrik 24 jam. Kepastian ini diperoleh setelah PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Flores dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Labuan Bajo sepakat mempercepat pembangunan Jaringan Listrik Perdesaan (Lisdes) yang melintasi kawasan hutan setempat.
Langkah nyata percepatan ini ditandai dengan koordinasi teknis dan survei lapangan bersama di kawasan hutan Desa Bari, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, pada Kamis (02/07). Langkah kolaboratif ini diambil agar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan tetap berjalan dalam koridor hukum dan regulasi kehutanan yang berlaku.
Pertemuan lapangan tersebut merupakan tindak lanjut dari koordinasi intensif sebelumnya antara Manager PLN UP2K Flores dengan Kepala KPH Labuan Bajo, Pieter Dethan, pada 22 Juni 2026 lalu. Kedua belah pihak fokus menyelaraskan mekanisme perizinan di sejumlah titik krusial, yakni lokasi Nanu dan Pasat (Desa Sambi, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai) serta Desa Bari (Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat).
Dari hasil koordinasi, disepakati skema kerja paralel: pembangunan fisik jaringan listrik di lapangan dapat mulai berjalan bersamaan dengan penyelesaian administrasi Perjanjian Kerja Sama (PKS), dengan jaminan kepatuhan penuh terhadap regulasi lingkungan.
Untuk mengantisipasi kendala teknis di lapangan, tim gabungan telah memetakan titik-titik pembangunan di dalam kawasan hutan KH RTK 103 Nggalak Rego/Bari, sekaligus memproses izin pemangkasan dan penebangan pohon yang masuk dalam ruang bebas (Right of Way/ROW).
Berikut adalah status terkini dari hasil survei lapangan:
Desa Bari (Manggarai Barat): Proses penebangan pohon pada jalur distribusi telah mendapatkan persetujuan prinsip. Syaratnya, seluruh pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan wajib didampingi secara melekat oleh personel KPH. Lokasi Nanu dan Pasat (Manggarai): Dokumen hasil pemeriksaan lapangan akan diteruskan oleh Kepala KPH Labuan Bajo kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Proses pekerjaan hingga tahap pengaliran arus listrik (energize) akan mengikuti keputusan resmi dari DLHK NTT.
Spesifikasi Infrastruktur Kelistrikan yang akan Dibangun
Proyek Lisdes di kedua kabupaten ini mencakup pembangunan infrastruktur yang masif demi menyuplai daya yang andal bagi masyarakat dengan data sebagai berikut:
Lokasi Proyek/Jaringan Tegangan Menengah (JTM)/Jaringan Tegangan Rendah (JTR)/Gardu Distribusi/Target Pelanggan
Nanu & Pasat JTM: 6,57 kms, JTR :7,85 kms , 2 Unit Gardu distribusoo (100 kVA) untuk 198 KK
Desa Bari JTM:13,51 kms, JTR :11,60 kms, 3 Unit Gardi distribusi (150 kVA) untuk 588 KK
Total Gabungan JTM: 20,08 kms, JTR :19,45 kms, 5 Unit Gardu distribusi (250 kVA) untuk 786 KK
Manager PLN UP2K Flores, Reza Eka Putra, menegaskan bahwa pemenuhan hak masyarakat atas listrik tidak boleh menabrak aturan lingkungan. Sinergi dengan KPH Labuan Bajo ini adalah solusi strategis untuk menjembatani kedua hal tersebut.
“Kami mengapresiasi dukungan penuh KPH Labuan Bajo. PLN berkomitmen kuat untuk mengikuti setiap regulasi yang ada agar proyek Lisdes ini legal, aman, dan segera membawa manfaat nyata bagi masyarakat yang telah lama menantikan kehadiran listrik PLN,” tutur Reza.
Sikap suportif juga disampaikan oleh Kepala KPH Labuan Bajo, Pieter Dethan. Menurutnya, aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat harus berjalan selaras.
“Kami mendukung penuh karena dampak listrik desa ini sangat besar bagi peningkatan taraf hidup masyarakat. Jalur birokrasi dan survei lapangan kami buat seefektif mungkin. Hasilnya segera kami serahkan ke DLHK Provinsi NTT sebagai penentu kebijakan lanjut,” jelas Pieter.
Secara terpisah, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT, F. Eko Sulistyono, menyatakan bahwa mengatasi tantangan geografis dan administratif di NTT memerlukan kerja sama multi-pihak.
“PLN tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan instansi kehutanan dan pemerintah daerah adalah kunci. Hadirnya listrik di pelosok Manggarai ini nantinya bukan sekadar penerangan, melainkan pemantik roda ekonomi, pendorong kualitas pendidikan, serta layanan kesehatan yang lebih baik demi pembangunan berkelanjutan di Pulau Flores,” pungkas Eko.
Melalui kemitraan yang solid ini, PLN optimistis seluruh proses perizinan dapat segera rampung, sehingga target interkoneksi listrik di wilayah Nanu, Pasat, dan Desa Bari dapat terwujud sesuai linimasa yang direncanakan.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaLontar.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
