Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Ekonomi Kita Tumbuh 5,61%, Tapi Rupiah Lagi Hobi “Diving”

200
Reporter : Redaksi
y57iv7y57iv7y57i
Oleh: Dedy
Nitizen 62

Kabar gembira! Ekonomi Indonesia resmi tumbuh 5,61% di Kuartal I-2026. Angka yang sangat gagah, setidaknya di atas kertas laporan yang dijilid rapi. Sayangnya, kegagahan angka ini tampaknya tidak menular ke nilai tukar Rupiah yang belakangan ini lebih memilih gaya hidup “merendah” alias anjlok demi mengejar kedalaman baru di hadapan Dolar AS.

Ibarat melihat teman yang baru saja pamer iPhone terbaru di media sosial, tapi besoknya dia diam-diam makan promag karena uangnya habis buat bayar cicilan. Kita bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi, namun di saat yang sama, dompet kita mendadak menderita “anemia” setiap kali melihat harga barang yang makin tidak masuk akal.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

Pertumbuhan Ekonomi vs Realitas Dompet

BPS memang mencatat jumlah penduduk bekerja naik jadi 147,67 juta orang. Tapi mari kita jujur, penyerapan kerja ini didominasi oleh sektor informal dengan produktivitas rendah. Jadi, sementara data pertumbuhan ekonomi sedang pamer otot di panggung, di belakang layar, Rupiah kita sedang sibuk latihan diving tanpa alat bantu pernapasan.

Menteri Perindustrian bahkan sudah mengakui bahwa risiko badai PHK massal sudah di depan mata akibat tekanan global dan melemahnya kurs. Jadi, kalau ekonomi tumbuh 5,61% tapi pabrik-pabrik tekstil dan plastik mulai bersiap “pamitan” karena harga bahan baku impor mencekik leher, mungkin pertumbuhan itu sedang main petak umpet dengan realitas di lapangan.

Kesimpulan: Tumbuh Sih, Tapi…

Mungkin ekonomi kita memang sedang tumbuh pesat, tapi ia tumbuh secara mandiri dan tidak mau mengajak Rupiah ikut serta. Pertumbuhan ekonomi asyik berpesta merayakan angka 5,61%, sementara Rupiah memilih menepi di pojokan sambil meratapi nasib lulusan SMK dan Universitas yang angka penganggurannya masih saja betah di angka tinggi.

Mari kita rayakan pertumbuhan 5,61% ini dengan segelas kopi… selama harga biji kopinya tidak ikut-ikutan menyesuaikan kurs Dolar besok pagi. Kalau tidak, mungkin kita harus kembali ke kearifan lokal: minum air putih yang direbus sendiri, itu pun kalau harga gasnya tidak ikut “tumbuh” menyusul angka BPS.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaLontar.Com

+ Gabung

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *